Sabtu, 21 Mei 2016

Cerita Sambil Belajar

Lulus kuliah disaat yang tidak tepat,...
Cuma itu yang bisa saya katakan, bagaimana tidak...?? Mari kita melihat kebelakang...

Sejak tahun 2011, industri batubara dunia (eksplorasi, eksploitasi, perdagangan dll) mengalami tekanan berat. Beberapa perusahaan telah tutup, karena tidak kuat mengatasi ongkos operasional yang makin membesar padahal harga batubara tidak kunjung membaik. Tidak sedikit pelaku industri batubara yang menutup proyeknya, menghentikan ekspansi atau mengurangi produksi.  Sebagai pemasok dan pengkonsumsi batubara terbesar di dunia, untuk pertamakalinya dalam sejarah seratus tahun, produksi batubara china juga turun di tahun 2014 sebesar 2.1%, seperti dilansir oleh Guardian.

Apa penyebab yang paling mendasari kejatuhan industri ini? Tentunya selain harga yang terus turun?
Dilihat dari kacamata strategi, memang industri batubara mengalami penurunan dramatis.

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa industri ini mengalami tekanan. Secara sederhana bisa dianalisis menggunakan teori kompetisinya Porter.

Pertama adalah adanya produk substitusi. Hampir seluruh produksi batubara digunakan untuk pembangkit listrik. Dulu harga batubara masih bersaing dengan gas. Sayangnya sekarang harga gas bisa lebih rendah, terlebih setelah revolusi shale gas dan shale oil, yang dipelopori oleh Amerika sehingga mendorong produksi gas besar-besaran dan menurunkan harga jual gas, termasuk harga minyak mentah karena pasokan yang melimpah. Dalam hal ini, pembangkit listrik mulai mengganti pasokan energi dari batubara dengan gas. Walhasil, harga batubara yang memiliki korelasi positif dengan harga minyak dunia ikut turun. Sebagai contoh harga batubara thermal Australia dari rata-rata harga USD 130/MT tahun 2011, sekarang di bulan Maret 2015 menjadi hanya USD 65/MT.

Jatuhnya harga batubara dunia, menimbulkan efek berantai pada rantai pasokan batubara. Otomatis terjadi tekanan terhadap produsen batubara terhadap pihak yang terlibat dalam industri batubara seperti jasa pertambangan batubara terkait biaya jasa eksploitasi batubara dan pengupasan tanah (overburden). Efek berantai ini cukup memperberat industri jasa pertambangan batubara, karena produsen menginginkan biaya pengupasan dan eksploitasi lebih rendah dari sebelumnya.

Kedua adalah bangkitnya pemakaian energi terbarukan terutama dari energi matahari, angin dan lainnya. Dua negara pemakai energi terbesar di dunia, yaitu China dan Amerika sudah memberikan regulasi dan insentif lingkungan terhadap pemakaian energi bersih (clean energy). Batubara memang tidaklah sebersih energi fosil lainnya seperti gas.  Kebijakan ini membuat pengguna energi mulai melimpahkan atau mensubstitusikan energi dari penggunaan batubara ke energi yang lebih murah, lebih bersih atau energi yang ramah lingkungan. Terlebih adanya insentif dari pemerintah.

Di Amerika sebelum tahun 2009, energi matahari  atau panel surya belum dianggap.  Namun stimulus dari Department Energi Amerika cukup membantu aplikasi penggunaan energi matahari, terutama di wilayah California di Desert Sunlight dan Topaz, dengan masing-masing memiliki kapasitas 550 MW. Langkah stimulus pemerintah Amerika juga pada akhirnya mendorong perusahaan swasta ikut mendiversikan energinya seperti halnya Apple yang dua minggu lalu berinvestasi USD 850 juta, membeli 130 MW  dari FirstSolar untuk keperluan perusahaan, termasuk data center yang dimilikinya. Procter & Gamble juga telah menginvestasikan USD 200 juta kepada Constellation untuk membangun pabrik biomass yang diharapkan bisa menghasilkan energi 50 MW untuk keperluan pabrik, kantor maupun utilitas lainnya. Ritel terbesar di dunia, WalMart juga telah menginstalasi panel surya di gerai-gerainya, dengan total kumulatif energi dari panel surya mencapai 65 MW.

Industri kesehatan Kaisar Permanente di Amerika  bermaksud membeli sekitar 43 MW energi turbin angin dari Altamont Pass Wind turbine farm,  salah satu pemasok energi besar dari turbin angin di dunia. Google juga berencana  mengambil 43 MW dari Altamont untuk memasok GooglePlex. Ini dilakukan setelah pembaruan besar-besaran turbin angin Altamont oleh NextEra.

Langkah-langkah ini, dengan tujuan jangka panjang akan memberkan penghematan biaya listrik selama 20 – 30 tahun ke depan. Kemajuan teknologi terbarukan pada energi matahari/ panel surya, angin, biomassa terutama untuk skala industri besar, telah memberikan harga cukup kompetitif dibandingkan sumber energy fosil. Industri pengguna energi yang besar seperti teknologi komputer, jasa kesehatan maupun barang ritel konsumsi telah melihat kegunaan untuk beralih ke sumber energi yang lebih efisien, bersih dan hijau.
Apakah ini berarti industri batubara akan mati? Tentunya terlalu jauh untuk mengatakan hal demikian, selama masih ada pembangkit listrik yang menggunakan batubara. Namun melihat tren dan kecenderungan pemakaian energi di masa depan, prospek industri batu bara untuk bangkit kembali seperti pada masa keemasan tahun 2006 sampai dengan tahun 2009 tidaklah menggembirakan. Perlu langkah-langkah strategis bagi pelaku industri batubara dimana hal ini menjadi sorotan dan perhatian penulis saat membuat penelitian tentang industri ini ditahun 2013 lalu.

Cerita diatas jelas membuat para Fresh Graduate seperti saya kehilangan motivasi untuk tetap exsis dibidang yang pernah digeluti selama masa perkuliahan.

Ga kebayang saya..??
yang kita tau seputar Geology Modeling, Resources and Reserves Calculating, Mine and Pit Design, Heavy Equipment Fleet Management Dll, dan itu CV kita ajukan keperusahaan dengan judul lamaran "Job Apply : Credit Marketing Officer" (Oh Tuhan), dan kalau kamu mikir "kenapa ga coba masukin lamaran ke konsultan sipil kan ilmu nya hampir sama" saya jawab SUDAH, dan kamu tau apa jawaban nya setelah saya bilang background education saya teknik tambang..?? "maaf dek yang kita cari anak sipil" itu rasa nya nyesek maksa, hehehe... satu-satu nya harapan saya cuma om petromindo, dan sejauh ini prestasi terbaik saya cuma sampe di interview user PT. Riung Mitra Lestari, yang kebetulan lg buat program FGDP (kejadian yang jelas membuat patah hati dibelain bongkar celengan buat terbang Jambi-Bekasi).

Cape jadi Jobsekeer di industri tambang, saya puter stir ke Job Vacancy lain, terserah deh yang penting ga nganggur, yap cuma itu yang ada di fikiran saya kemaren (Juli 2015, ga tau besok..hehehe), iseng masukin bahan ke astra credit company dan akhir nya melalui proses seleksi yang lumayan ketat saya lolos (tersisa 3 kontestan) dan setelah di putuskan 2 orang teman saya langsung teken kontrak, nah nasib gua gimana pak HRD..?? setelah 2 hari di gantung saya dapat Telp katanya nunggu 2 bulan lagi, karna alasan nya aneh saya putuskan untuk kembali berjibaku, belum rezki barangkali (kembali patah hati tapi ga separah yang pertama).

Jobstreet, Koran lokal, dll jadi sahabat karib setelah pacar yang terus memotivasi (Love u Beib), kurang lebih 2 minggu mencari, ada info developer lagi butuh orang dan kebetulan waktu itu ada dua developer yang saya lamar, entah mungkin secara kebetulan kedua perusahaan tersebut mengundang saya untuk interview diwaktu yang bersamaan.
DAMN...!!

Kok bisa, tapi ya gpp lah, ga boleh milih barangkali...singkat cerita saya bergabung ke salah satu developer tsb dan mengisi posisi Land Surveyor (alhamdulillah), 2 bulan berjalan saya dapat telp dari astra untuk teken kontrak kerja, karna masih merasa nyaman dengan posisi yang saya jalani saya tolak tawaran tsb, 7 bulan berjalan project saya mulai berkurang, dengan alasan ingin mencari pengalaman di tempat lain saya putuskan untuk resign, sekarang (mei 2016) saya kembali menjadi jobsekeer dan setelah 1 bulan lebih berjibaku panggilan interview pun mulai berdatangan (alhamdulillah) mulai dari Ciputra Group, PT. Chas, Wings Group, dll dan yang terakhir May Bank (hehee kepepet sob), hasil nya masih nihil (tetap sabar) belum ketemu yang cocok mungkin, macam-macam alasan HRD ny, dan besok tanggal 24 mei 2016 jam 08.00 pagi jadwal interview saya dengan Garda Oto (masih astra group) jam 03.00 sore nya sama PT. Prima Karya Nusa (Distributor Pelumas), yah semoga saja, nama nya juga usaha (ngarep hehe)...

Sobat seperjuangan, jangan berkecil hati, Dunia karir tidak sekecil dunia TAMBANG, rezki mah sudah ada yang atur, walau beda rasanya berada di tempat yang bukan habitat nya, hehe....

Sekian dulu cerita saya...
Tetap semangat miners..
Salam Tambang....!!

Sumber :
IndexMundi.2015. Coal Price Commodity. Dikutip dari laman http://www.indexmundi.com/commodities/?commodity=coal-australian&months=60.